It’s all in the mind

Selama weekend yang baru lewat saya melakukan hal yang cukup gila dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Mendaki gunung Papandayan di daerah Garut, Jawa Barat. Betul akhir-akhir ini Garut namanya sering disebut akibat perilaku bupatinya yang nyeleneh. Tapi selain dodol, ternyata garut punya banyak tempat wisata yang menarik. Gunung Papandayan ini salah satunya. Bukan jenis wisata yang bisa dinikmati bersama keluarga, tapi pemandangan baru untuk orang-orang yang hidupnya 98% dihabiskan di kota. But I’m not gonna talk about those ..

Singkat cerita, demi memuaskan hasrat motret yang sedang menggebu-gebu, saya menerima ajakan beberapa teman untuk mendaki Papandayan, lengkap dengan 2 body dslr dan 3 lensa + tripod. Serasa bawa backpack tentara !

15 menit pertama saya tertinggal 30an meter dibelakang tim. Hey I’m just a photographer, not a trekker. Dengan pandangan yang mulai burem dan paru-paru serasa mau meledak, rasanya ngga ada gunanya saya ikut naik terus. Ngga akan pernah sampai ! So I’m ready to give up. Tapi ternyata tim begitu baik mau bersabar menunggu kondisi saya stabil baru kemudian melanjutkan perjalanan dengan tempo yang lebih lambat.

Setelah dari spot memotret sunrise dengan pemandangan gunung cikurai, kami siap menuju tempat edelweis terdekat di pondok salada. Pendakian sepanjang kurang lebih 300 meter melalui jalur normal tidak kami lalui karena kemiringan yang sekitar 60 derajat. Menurut ranger yang memandu kami, lewat jalan itu ‘lutut ketemu dada’, saking tingginya. Rute yang sedikit lebih ‘landai’ jaraknya dua kali lebih jauh. Disini saya putuskan untuk menyerah. Tapi ada pilihan lain kah ? naik sengsara, turun juga ngga kalah sengsara. Dengan berat hati, kaki, dan napas saya melanjutkan pendakian. Batu dan akar pohon jadi pegangan sepanjang perjalanan, sampai akhirnya tiba di celah masuk menuju pondok salada.

Titik ketiga tempat saya menyerah adalah dalam perjalanan turun yang ngga kalah susahnya dengan mendaki. Tujuan kami adalah danau kecil yang mengandung sulfur dan banyak mengeluarkan asap. Perjalanan turun banyak menggunakan otot pada dan lutut sebagai tumpuan. Dengan kondisi seperti ini, saya ngga yakin masih bisa manjat batu dan melompati sungai, mengingat masih ada 6 jam perjalanan bawa mobil menuju Jakarta. Saya persilahkan teman-teman untuk menuju danau, sementara saya langsung menuju parkiran. Tapi ternyata kalau saya tidak ikut, merekapun cenderung untuk langsung turun ke parkiran, sementara we are so close to the final spot, di danai itu. Artinya saya musti pinjem simpanan tenaga 10% dari langit, karena yang 100% sudah habis untuk naik dan turun gunung tadi. 15 menit kemudian kami sudah sibuk foto-foto di danau.

Moral of the story buat saya, pada saat kita punya keinginan kuat, akan ada jalan mencapai tujuan kita. 3 kali saya menyerah, dan 3 kali ada alasan yang kuat untuk bangun dan melanjutkan perjalanan, baik itu berupa motivasi dari teman-teman satu tim, dari pemikiran pribadi, ataupun dari keadaan yang memang tidak memberikan pilihan lain selain untuk tetap terus maju.

Kalau ditimbang-timbang, kemungkinan gagal cukup tinggi untuk saya yang tidak pernah mendaki gunung, sambil bawa peralatan foto dan beban berat badan sendiri yang hampir 100 kg. Tapi ternyata saat saya berfokus pada tujuan akhir dan mengesampikan analisa bagaimana kalau begini dan kalau begitu, lingkugan sekitarpun akan membantu saya mencapai tujuan.

Planning and analysis is important, but its not everything. Most of the time it depends on you .. and what you conceive in the mind ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *