Sawarna, surga fotografer dan peselancar

You simply cannot make a bad shot in Sawarna. Itulah kesan yang tertanam di benak saya setelah satu harian bermain-main di bebatuan karang dan pantai berpasir putih di Sawarna. Belum pernah dengar tentang Sawarna ? Kemana aja selama ini nih ? .. 😀

Memang sih, dibandingkan dengan Pangandaran atau Anyer, nama Sawarna baru mulai terkenal beberapa tahun belakangan ini. Tapi bisa dijamin, keindahan yang ditawarkan tidak kalah dengan dua tempat yang lebih dahulu disebutkan tadi.

Perjalanan dari Jakarta dengan tempo santai memakan waktu kurang lebih 6 jam. Kami berangkat tepat jam 10.15 pm dari TIS yang sudah disepakati sebagai tempat rendezvous. Iring-iringan 2 mobil menuju arah Sukabumi melewati tol Jagorawi tiba di daerah Cibadak dalam waktu kurang lebih 2 jam. Di Cibadak kami berbelok kanan keluar dari jalur Sukabumi, mengambil arah Pelabuhan Ratu.

Sawarna bisa dicapai dalam waktu 1-1.5 jam dari Palabuhan Ratu. Jalur yang ditempuh cukup mulus, walaupun bisa dibilang sempit dan ada beberapa bagian yang berlubang disana-sini. Hati-hati karena lajurnya hanya pas cukup untuk dua mobil berpapasan. Kami memilih melakukan perjalanan malam sehingga sangat jarang berpapasan dengan mobil dari arah yang berseberangan.

Jam 1an dini hari kami memasuki Palabuhan Ratu. Berhubung bulan ini adalah bulan puasa, timing untuk sahur menjadi agak tricky. Bisa diprediksi saat kami tiba di Sawarna jam 4 nanti tidak ada lagi penjual makanan yang masih buka. Kamipun memutuskan untuk beristirahat sebentar sekalian dengan early sahur.

Waktu tempuh 1-1.5 jam dari Palabuhan Ratu menuju Sawarna benar-benar terasa sangat lama. Bayangan pantai Cisolok, tanjakan menuju puncak Habibi, dan kelok jalan menuju daerah Bayah berlalu begitu cepat berlomba dengan mata yang semakin berat dan stamina yang makin menurun. Tapi untunglah menjelang jam 4 subuh kami tiba di pertigaan yg menjadi pintu masuk menuju sawarna. 2-3 kilometer lagi perjalanan akan berakhir.

Perkampungan yang menjadi tempat penginapan kami cukup menarik. Terlihat tertata rapih dan disiapkan dengan fasilitas yang cukup memadai untuk pengunjung. Tidak mengherankan, selain pengunjung domestik banyak surfer yang datang dari manca negara dan tinggal di sawarna untuk waktu yang cukup lama.

Berhubung waktu yang terbatas, setelah check in kami segera menuju ke Tanjung Layar dengan menumpang ojek untuk menyambut sunrise. Dalam kegelapan memang bukan ide yang baik untuk berjalan sendiri mencari jalan. 5 menit dengan ojek, terdengar deru ombak pantai laut selatan menyambut kami dan bayangan batu-batuan raksasa seolah menjadi penjaga pantai.

Perlahan tapi pasti sinar matahari pagi membuka kegelapan malam, menampakkan keindahan suasana pantai laut selatan dengan ombak yang cukup ganas memukul batu-batu karang. Tak terasa 5 jam kami habiskan mengabadikan suasana Tanjung Layar. Saatnya kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Sore hari di Tanjung Layar menampilkan nuansa yang berbeda dengan pagi hari. Selain tentu saja pengunjung yang terlihat lebih banyak, warna matahari yang kemerahan seolah ikut meramaikan kegembiraan para pengunjung. Beberapa saat setelah sinar matahari terakhir menghilang, kamipun kembali ke penginapan untuk berbuka puasa dan sharing foto .. a-la IPC.

Menurut cerita, selain Tanjung Layar masih ada beberapa tempat yang menarik di Sawarna seperti Karang Taraje. Namun nampaknya seharian bersama karang-karang di Tanjung Layar sudah cukup untuk kunjungan kali ini. Kami putuskan untuk check out pagi hari dan kembali ke Jakarta sambil berencana untuk mampir di beberapa lokasi yang menarik sepanjang perjalanan pulang.

Tidak jauh dari Sawarna ada lokasi pelelangan ikan yang cukup fotogenik lengkap dengan pemandangan perahu dan para nelayan yang pulang melaut. Kami berhenti sebentar untuk mengabadikan moment-moment menarik bernuansa humanis di Pulow Manuk.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menujut Jakarta .. kembali ke kehidupan nyata .. 🙂

Untuk saya, perjalanan kali ini sangat memuaskan. Cita-cita untuk melihat dan mengabadikan laut selatan yang terkenal itu sudah tercapai. Sunrise dan sunset yang indah, ditambah pemandangan alam yang fotogenik benar-benar membayar lunas perjalanan yang cukup jauh. Very well worth it .. !!

[nggallery id=18]

Foto-foto lain tentang ombak dan karang Tanjung Layar, Sawarna silahkan diakses di beberapa koleksi seri air dan karang saya.

Melihat keindahan yang ditawarkan oleh Sawarna, saya yakin suatu saat nanti akan kembali untuk mengexplore sudut-sudut lain yang ditawarkan …

 

One thought on “Sawarna, surga fotografer dan peselancar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *