Papa Porter yang Pensiun Dini
Di kursi belakang mobil, dua suara mungil sedang konser. Lagu acak, melompat dari lagu anak ke lagu iklan, lengkap dengan reff yang lirik separuhnya terlupa. Tidak ada playlist, tidak ada ritual, Google Maps membentang hijau. Berangkat pukul 15:00, sengaja tiga jam sebelum terbang, karena titik paling macet justru sebelum gerbang tol. Saya tidak mau liburan dimulai dengan panik. (Pengalaman sudah mengajarkan. :D)

Di Terminal 1B, punggung ini sudah siap jadi Papa Porter. Ternyata tidak kepakai. Dua koper, satu krem satu biru muda, ditarik sendiri oleh pemiliknya menyusuri lobi dengan langkah pelancong berpengalaman. Pose di depan konter check-in muncul tanpa disuruh. Cece bersandar santai bak model cilik, Jolene tersenyum sumringah tidak mau kalah. Tugas saya bergeser ke pekerjaan yang lebih cocok, juru potret.

Santap sore di MM Juice jadi pertarungan kecil. Jolene menyingkirkan sendok pink sejak ronde pertama dan memegang sumpit hitam dengan mulut setengah menganga karena konsentrasi. Berkali-kali kwetiau licin lolos, sampai mangkuknya tandas juga. Jovanka lahap tanpa drama, sementara saya bertugas di posisi yang tak pernah masuk kredit, tim sapu bersih.



Sriwijaya SJ 272 kami board paling awal. Kabin kosong seperti dicarter. Jolene mengunci kursi jendela impiannya, Jovanka membalik majalah inflight dengan khidmat, dan barisan depan 2A-2B-2C plus driver serta tim darat yang siap. Semuanya tersusun rapi oleh arsitek liburan ini, Mama.


Pukul sembilan malam Ngurah Rai menyambut lewat papan bercahaya. Welcome to Bali, Om Swastiastu, semoga kita dalam keadaan selamat. Salam yang pas untuk dua anak yang baterainya entah bagaimana langsung penuh lagi begitu menginjak pulau. (Saya curiga mereka punya sumber listrik sendiri.)

Pepito Market, ritual wajib, dengan keranjang yang jujur. Pop Mie untuk anak, wine untuk orang tua. Liburan kan..

Di lorong The Laguna yang temaram, Mama berjalan di tengah merangkul kedua kesayangannya. Tangan mungil Jolene menggenggam erat, seperti takut kehilangan lagi. Formasi keluarga utuh, lelah seharian langsung pensiun.


Di balkon, menghadap laguna biru toska, sebotol Sweet Alexandria kubuka. Something sweet to end the day.

Beanbag Kuning dan Kelinci di Lorong Marmer
"Kita mulai hari ini di sini." Diucapkan di tepi kolam Laguna, dan tidak ada yang membantah. Dua beanbag kuning raksasa mengapung di air sebening kaca. Jovanka berbaring tenang dengan ungu, Jolene pink menyala merebah manja di pelukan kakaknya. Tidak ada yang bicara lama, hanya suara air, angin pantai, dan kelapa yang melambai. Wishlist nomor satu tercentang, dan justru momen diem-diemnya yang paling tinggal di saya.

Hari bergeser ke Mövenpick Jimbaran. Saat kami tiba, kamar belum siap. Kalimat "belum siap" bisa jadi bencana, kalau bukan karena kami punya strategi es krim di kafe kanopi merah-putih Samasta. Jolene memilih cup bertabur Oreo utuh dan meses warna-warni, Jovanka cookies & cream yang klasik. Rencana makan siang menguap, bukan karena lapar kalah, tapi karena Meera Kids Club bertema bajak laut lewat di pandangan. Bermain selalu menang telak atas makan. Itu hukum alam pertama.



Sementara dua bajak laut sibuk di Kids Club, Papa mendapat jatah diam. Es kopi hitam di ST. ALi, dan kursi tunggal.

Kunci kamar ternyata datang lebih cepat dari janji. Dalam hati saya salut, Mövenpick. Tapi kejutan sebenarnya adalah hotel memberi tiap anak kunci berbentuk kelinci putih bertelinga merah muda. Lorong marmer yang sunyi berubah jadi sirkuit sprint. Dua bayangan kaki mungil melayang di lantai mengilap, berebut menempelkan kelincinya ke pintu paling dulu. Sejak detik itu, kamar ini resmi feels like theirs.


Malamnya Mama menyiapkan kejutan paling senja. Meja 54 di Menega Cafe, Pantai Muaya, atas nama "Ms. Suyanti", baris paling depan menghadap laut. Matahari turun pelan ke Teluk Jimbaran sambil memantul keemasan. Ikan bakar datang dengan aroma arang sabut kelapa, kelapa muda mengembun di gelas, dan angin pantai mengerjakan tugasnya membuat semuanya terasa lebih enak dari yang sebenarnya.




Sebelum pulang, di atas pasir gelap, Jolene berjalan di depan memegang lampu mainan warna-warni, ungu-merah, seperti bintang kecil yang sedang pulang kerja. Besok, katanya, kolam lagi.

Taman Dongeng, Barong, dan Waktu yang Melambat
Hari ketiga dibuka di Anarasa, dengan lantai bermotif artistik dan cahaya pagi masuk dari jendela kaca besar. Tapi jalan menuju kolam ternyata seindah tujuannya. Gerbang melati, bougenvil ungu-pink yang mekar, jembatan beton putih. Di Bali, bahkan koridor menuju kolam ditata seperti taman dongeng.


Di kolam infinity, taman bermain apung biru-oranye sudah menunggu. Dua anak berlompatan, tenggelam-muncul, tertawa sampai suaranya terdengar ke gazebo ijuk tempat saya duduk menonton. Main air membuat lapar, hukum alam kedua, dan kami menaatinya di Wahaha. Pork rib tebal di papan kayu dengan bendera kecil tertancap, nasi hangat, sup bening.




Hukum ketiga: anak kenyang, anak main lagi. Mereka melesat ke Kids Club tanpa perlu disuruh dua kali. Untuk pertama kalinya sepanjang trip, orang tua punya sore untuk diri sendiri. Cold brew beririsan jeruk di meja saya, es krim cone di kursi rotan untuk Mama; tanpa percakapan penting dan tanpa rencana besar, hanya dua orang yang duduk diam menonton pepohonan Samasta. Sederhana, dan sangat cukup.


Senja ditutup budaya. Barong menari di panggung terbuka diiringi gamelan, sang penjaga dari kejahatan dalam tarian baik melawan yang tidak baik. Mata Jovanka tidak berkedip sekali pun. Dan yang "tidak baik" sore itu kalah oleh keramahan. Seusai pertunjukan, seorang penari menghampiri, memberi salam namaste, menyematkan suvenir bunga buatan tangan. Muka malu-malu, senyum ditahan-tahan tapi tidak berhasil. Gelap datang, kami sempat berfoto dengan seluruh cast. Barong berjanggut rumbai, penari-penari berkipas warna-warni, dan pemain bertopeng monyet yang masih sempat memberi tanda damai.



Malamnya hari ditutup paling jujur di kamar. Pasta creamy, sisa pizza dari kotak kardus, Hatten putih dingin, dan dua napas panjang teratur di balik pintu. Ternyata yang paling tinggal justru yang ini, perut kenyang, kaki pegal, dan anak-anak pulas di sebelah.

Garuda di Balik Kaca
Pagi terakhir punya layanan VIP sendiri. Jolene, dengan tatapan serius seorang profesional, membawa dua gelas, apple juice di tangan kiri dan jus jeruk di kanan, tanpa setetes pun tumpah. Sarapan terbaik sepanjang trip, dan bukan karena rasanya, tapi karena tangan yang membawakannya.

Bandara membuat kami kepagian. Dari kursi tinggi ruang tunggu Ngurah Rai, landasan membentang di bawah langit biru, dan waktu terasa lebih lambat dari biasanya. Ada yang duduk menatap landasan sambil berharap penerbangan tidak molor, ada yang memilih posisi paling diam di depan kaca besar bertuliskan nama bandara.

Di kejauhan, sayup di balik kabut, Garuda Wisnu Kencana berdiri di atas bukit. Karya Nyoman Nuarta setinggi lebih dari seratus meter, dewa menunggang Garuda, penjaga yang tidak ikut berkemas tapi tetap mengantar.

Sisa menunggu dihabiskan di Teahouse, kopi dalam gelas hijau bertuliskan "Bali", suvenir kecil yang pas untuk penutup. Yang dua, sudah kehabisan tontonan, menempelkan kepala ke meja dan membaca kartu promo bandara seperti majalah edisi terakhir.


Di kabin SJ 273, formasi pulang lengkap. Mama di tengah, dua putri di sayapnya, majalah di pangkuan masing-masing. Jam delapan malam, tiba di rumah. Koper diturunkan, liburan resmi selesai.

Cerita ini berputar ke tempat mulanya, dari konser lagu acak di mobil menuju bandara sampai keheningan rumah setelah tiga hari penuh suara. Bedanya, kini ada beanbag kuning yang mengapung di ingatan, kelinci di lorong marmer, Barong yang menari, bintang kecil di pasir Jimbaran, dan segelas anggur manis di balkon laguna. Tiga hari yang tidak mewah-mewah amat, tapi cukup untuk membuat kami pulang sebagai keluarga yang lebih lengkap dari saat berangkat.
Tangerang Selatan, 11 Oktober 2026.
Untuk Ms. Suyanti, Jovan, dan Jolene: terima kasih sudah membuat Papa Porter menganggur, dan tetap dipekerjakan sebagai juru potret. :)
