← Semua cerita

Perjalanan · Jejak di Tanah Kitab · Bagian 1 dari 4

Mesir, Tanah Suci yang Hidup dari Satu Sungai

Mesir, Tanah Suci yang Hidup dari Satu Sungai

"Somewhere above Sumatra island." Demikian ketikan saya, ketika pesawat Emirates melintas di atas pulau itu. Di luar jendela, langit biru tua berubah jingga dan merah di cakrawala, dan di dekatnya menggantung bulan sabit tipis berdampingan dengan Venus, penanda malam pertama di udara. Saya berangkat sendiri. Yanti, Jovan, dan Jolene tidak ikut. Lewat Wi-Fi yang katanya bertenaga Starlink, saya mencoba video call dari kabin. Kemajuan tehnologi memang luar biasa. Wajah-wajah dari rumah muncul di layar ponsel, padahal saya sedang di atas awan.

Sebelum itu, semuanya masih terasa seperti rombongan biasa di Soekarno-Hatta. Selfie kompak di tikum Terminal 3, koper-koper diikat pita ungu supaya mudah dikenali di antara lautan bagasi. Lalu transit Dubai, gate C10, dan saya yang ketiduran menunggu penerbangan ke Kairo. Terbangun kedinginan oleh AC, padahal di luar suhunya 30-an derajat (kabur dari panas, malah kedinginan). Segelas McCafé di tangan jadi teman menunggu dini hari. Sesuatu yang familiar dengan rasa di rumah, dengan harga 5 kali lipat. Deretan jam dunia di dinding ruang tunggu sebagai pengingat: perjalanan ini akan melintasi banyak zona waktu.

The bird is here, Boeing 777 Emirates di apron Soekarno-Hatta, menunggu kami boarding menuju Dubai.
The bird is here, Boeing 777 Emirates di apron Soekarno-Hatta, menunggu kami boarding menuju Dubai.
Tim siap jalan. Terminal 3, sebelum semua cerita dimulai.
Tim siap jalan. Terminal 3, sebelum semua cerita dimulai.
Pita ungu penanda koper rombongan, sampai hari terakhir, pita inilah yang membuat koper kami pulang berombongan.
Pita ungu penanda koper rombongan, sampai hari terakhir, pita inilah yang membuat koper kami pulang berombongan.
McCafé transit Dubai, dini hari sebelum melanjutkan ke Kairo.
McCafé transit Dubai, dini hari sebelum melanjutkan ke Kairo.

Kairo menyambut jam setengah enam pagi dengan papan raksasa "Welcome to Egypt" yang huruf-hurufnya diisi gambar piramida dan gurun. Belum sempat keluar bandara, sebuah mural mosaik raksasa bergaya Firaun sudah menyapa: tiga perempuan memainkan harpa dan seruling di dinding terminal. Mesir memamerkan sejarahnya bahkan lewat pintu kedatangan.

Mural musisi Mesir Kuno di bandara Kairo, sambutan pertama di benua Afrika.
Mural musisi Mesir Kuno di bandara Kairo, sambutan pertama di benua Afrika.

Bus tour kami bernama EXODUS, nama yang ironis, sebab destinasi pertama rombongan ini justru masuk ke Mesir. Dari jendela bus, sambutan pertama Kairo bukan gedung, tapi padang pasir. Mina pemandu kami bercerita: Mesir hidup dari Sungai Nil, seratus persen bergantung padanya, kecuali Sinai yang menyuling air Laut Merah. Dan para raja meninggalkan makam, bukan rumah, karena rumah di tepi sungai lenyap dimakan waktu. Yang abadi justru rumah-rumah kematian mereka di dataran tinggi. Yes, piramida adalah makam. Piramida pertama muncul di kejauhan, bukan di tengah gurun seperti di foto-foto buku, melainkan menyembul dari balik deretan apartemen Giza.

Pucuk piramida di antara gedung apartemen, monumen yang seumur hidup ada di buku pelajaran, tiba-tiba nyata.
Pucuk piramida di antara gedung apartemen, monumen yang seumur hidup ada di buku pelajaran, tiba-tiba nyata.

Di plaza Giza kami hanya mendekat, tidak masuk, waktu terbatas, tapi cukup untuk merinding. Kereta kuda berkanopi yang melintas di depan Khufu tampak sebesar mainan di hadapan tumpukan batu berusia 4.500 tahun. Dari trio Giza, hanya Khafre yang masih menyimpan "topi", selubung batu casing halus di puncaknya, sisa kulit asli yang dulu membungkus seluruh sisi piramida. Sementara itu karavan unta berbaris di kaki piramida persis seperti kafilah dagang ribuan tahun lalu; hanya penumpangnya yang berganti dari pedagang rempah menjadi wisatawan bertopi bucket. Dan di ujung plateau, Sphinx berbaring di cekungan pasirnya, penjaga berkepala firaun yang hidungnya hilang, dan bekas riasan matanya yang samar jadi cerita sendiri.

Piramida Khufu, balok demi balok, 4.500 tahun.
Piramida Khufu, balok demi balok, 4.500 tahun.
Sisi piramida, tangga waktu yang bisa dipanjat mata.
Sisi piramida, tangga waktu yang bisa dipanjat mata.
Piramida dari plaza, shuttle golf dan bus hijau, kontras yang jujur.
Piramida dari plaza, shuttle golf dan bus hijau, kontras yang jujur.
Unta di piramida, kafilah dagang tua yang berganti penumpang.
Unta di piramida, kafilah dagang tua yang berganti penumpang.
Sphinx, berbaring ribuan tahun, menunggu ditanya.
Sphinx, berbaring ribuan tahun, menunggu ditanya.

Sorenya, di kawasan Kairo tua, kami menyusuri tiga agama dalam satu radius jalan. Yang pertama Abu Serga, gereja gua tempat Keluarga Kudus berteduh saat Pelarian ke Mesir. Di lantainya, di balik kaca penutup, ada sumur tua bertuliskan the well which the Holy Family drank from. Pengunjung menunduk, menyentuh kaca, berdoa pelan. Saya ikut menunduk. Ada yang aneh secara emosional membayangkan air yang sama, enam belas abad lalu, diminum oleh seorang bayi. Langkah berikutnya hanya menyeberang: Sinagoga Ben Ezra dengan Bintang Daud tergantung di antara kolom marmer; lalu Gereja Gantung Al-Muallaqa, yang dibangun di atas dua menara Benteng Babilonia Romawi, lantai kacanya membiarkan saya mengintip fondasi kuno itu tepat dari atas sepatu sendiri, sementara halaman dalamnya yang teduh, air mancur marmer dan lentera bintang, menutup rute hari itu: tiga agama, satu kota tua, Kairo membuat perjalanan ini terasa utuh bahkan sebelum kami melangkah ke Tanah Terjanji. Dan Mesir sendiri, yang menampung Keluarga Kudus, justru tanah suci yang pertama kami pijak.

Interior gereja Koptik, langit-langit kayu berbentuk lambung kapal terbalik.
Interior gereja Koptik, langit-langit kayu berbentuk lambung kapal terbalik.
Gereja tua di Mesir, ikon-para-kudus berderet di dinding bata.
Gereja tua di Mesir, ikon-para-kudus berderet di dinding bata.
Sumur Keluarga Kudus di Abu Serga, air yang sama, enam belas abad lalu.
Sumur Keluarga Kudus di Abu Serga, air yang sama, enam belas abad lalu.
Interior Sinagoga Ben Ezra, sunyi dan sejuk setelah riuhnya jalanan.
Interior Sinagoga Ben Ezra, sunyi dan sejuk setelah riuhnya jalanan.
Gereja Gantung Al-Muallaqa, dua menara lonceng bermahkota salib Koptik.
Gereja Gantung Al-Muallaqa, dua menara lonceng bermahkota salib Koptik.
Halaman dalam Gereja Gantung Al-Muallaqa, air mancur marmer dua tingkat, lentera berpola bintang, lengkungan lancip di atas kolom marmer; oasis sunyi di tengah Kairo.
Halaman dalam Gereja Gantung Al-Muallaqa, air mancur marmer dua tingkat, lentera berpola bintang, lengkungan lancip di atas kolom marmer; oasis sunyi di tengah Kairo.
Lantai kaca Gereja Gantung, sepatu saya berpijak tepat di atas menara Benteng Babilonia Romawi.
Lantai kaca Gereja Gantung, sepatu saya berpijak tepat di atas menara Benteng Babilonia Romawi.
Bersandar di bangku sebuah rumah ibadah tua di Kairo, doa tidak selalu harus tegak; kadang ia cuma butuh tempat menyandarkan kepala.
Bersandar di bangku sebuah rumah ibadah tua di Kairo, doa tidak selalu harus tegak; kadang ia cuma butuh tempat menyandarkan kepala.

Penutup rute Kairo hari itu ada di Bukit Mokattam: Gereja Gua St. Simon the Tanner. Amfiteater raksasa di dalam batu, ribuan bangku bersalib, dan jauh di atas kepala, di rigging tebing, manusia-manusia melayang di atas kabel, seperti sulap. St. Simon mencongkel matanya sendiri supaya tidak jatuh dalam dosa; dan di tebing yang sama, ayat Matius 17:20 dipahat tepat di bawah salib: "jika kamu punya iman... katakan kepada gunung ini: berpindahlah..." Gunung yang dikisahkan berpindah itu adalah gunung tempat gereja ini berdiri. Tidak ada tempat yang lebih pas di seluruh dunia untuk ayat itu.

Gereja Gua St. Simon the Tanner, amfiteater di dalam batu.
Gereja Gua St. Simon the Tanner, amfiteater di dalam batu.
Ayat "gunung berpindah" terpahat di bawah salib, tepat di gunung yang dikisahkan berpindah.
Ayat "gunung berpindah" terpahat di bawah salib, tepat di gunung yang dikisahkan berpindah.

Bus pulang dari Mokattam melewati Kampung Zabbaleen, kampung para pemulung Koptik: gunungan karung hasil pilahan sampah sepanjang gang, baliho Yesus-Maria di antara lapak sayur, penjual roti baladi yang baru matang di pinggir jalan. Dan satu adegan yang membuat saya diam lama: seorang ayah memeluk dan mencium anaknya di tengah tumpukan karung raksasa. Iman dan kerja keras dalam satu frame yang sama.

Desa sampah di Kairo, gang sempit, pikap merah, gunungan karung pilahan.
Desa sampah di Kairo, gang sempit, pikap merah, gunungan karung pilahan.
Penjual makanan di kampung miskin Kairo, roti baladi keemasan.
Penjual makanan di kampung miskin Kairo, roti baladi keemasan.

Hari pertama di Mesir ditutup di atas Sungai Nil. Matahari tenggelam keemasan di balik siluet Kairo, penari Tanoura memutar roknya seperti piringan warna, dan setelah gelap, sungai itu jadi cermin hitam yang memantulkan seluruh lampu kota. Sungai yang mengaliri seratus persen kehidupan Mesir, malam itu mengalirkan juga musik dan cahaya.

Nil di malam hari, resto terapung berlampu keemasan.
Nil di malam hari, resto terapung berlampu keemasan.
Nil sore hari, matahari bulat keemasan di balik siluet gedung.
Nil sore hari, matahari bulat keemasan di balik siluet gedung.
Tarian Tanoura di kapal, rok warna-warni mengembang.
Tarian Tanoura di kapal, rok warna-warni mengembang.

Keesokan paginya kami check-out dari hotel di Kairo, fasad batu merah batanya tersiram langit biru, lalu bus membawa kami keluar kota, mengejar Sinai via Terusan Suez. Sebelum meninggalkan kota, dua singgah yang menyenangkan: toko parfum Mody Khattab, tempat saya membawa pulang myrrh 300 ml untuk Mama Yanti, minyak mur untuk pijat kaki, hangat tanpa bau, dan memang terbukti begitu, dan Institute of Papyrus, tempat nama Wongkar kini tertulis dalam hieroglif pada papirus Tree of Life: lima burung penanda fase hidup, empat menghadap timur tempat matahari terbit, burung kelima, masa tua, menghadap barat.

Makan siang di Le Pasha menutup Kairo dengan elegan, kofta empuk dan juicy, plus kurma segar dari Mina yang crunchy dan agak sepat; padahal pagi tadi di sarapan hotel saya sudah makan kurma yang empuk. Dua kurma, dua rasa, manisnya negeri ini memang tidak pernah berlebihan.

Hotel kami semalam di Kairo, batu merah bata di bawah langit biru.
Hotel kami semalam di Kairo, batu merah bata di bawah langit biru.
Interior Le Pasha, ruang makan bergaya Prancis yang hijau-emas.
Interior Le Pasha, ruang makan bergaya Prancis yang hijau-emas.

Di luar kota, bus masuk terowongan 2 km di bawah Terusan Suez dan mendadak hening, di atas kepala kita ada air dan kapal-kapal yang lalu-lalang tanpa terasa sedikit pun. Selebihnya jalan panjang menyusuri pesisir Laut Merah: siluet menara listrik di depan matahari rendah, pom bensin Watanya dengan sedan klasik krem, pegunungan gurun di bawah langit merah muda. Malamnya kami tiba dan menginap di resor tepi Laut Merah di Sharm El Sheikh, badan yang remuk diikat dan dilepas kembali, persiapan untuk hari pendakian.

Hotel di Sharm El Sheikh, semalam di tepi Laut Merah, sebelum Horeb.
Hotel di Sharm El Sheikh, semalam di tepi Laut Merah, sebelum Horeb.

Pagi berikutnya, dari Sharm El Sheikh bus membawa kami ke kaki gunung, ke Biara St. Catherine. Ribuan tahun umurnya, temboknya berdiri di antara tebing granit. Di sanalah, menurut tradisi, semak yang menyala tanpa hangus itu masih tumbuh, tempat Allah memanggil Musa dari semak duri. Kami tidak masuk ke biara. Tapi dari luar sudah cukup. Jalan tanah berkelok di antara tebing, empat pria bersorban duduk di tembok benteng, dan gunung merah menjulang sebagai latar.

Biara St. Catherine di kaki Gunung Sinai.
Biara St. Catherine di kaki Gunung Sinai.
Jalan menuju biara, berkelok di antara tebing batu cokelat.
Jalan menuju biara, berkelok di antara tebing batu cokelat.

Dari kaki gunung, pendakian dimulai dengan unta. Di sini pertama kali saya melihat orang Bedouin, dan yang menyita perhatian adalah pakaian mereka serta cara mereka menangani unta. Naik unta menuju "Starbucks" lokal di atas itu seru sekaligus menegangkan: untanya jalan sesuka hati, kadang di pinggir jurang, pemandu jauh di belakang, dan saya hanya bisa pegangan erat sambil ngeri-ngeri sedap.

Kafilah unta menuju "Starbucks" Sinai, pemandu Bedouin berjalan kaki di samping.
Kafilah unta menuju "Starbucks" Sinai, pemandu Bedouin berjalan kaki di samping.
Naik unta, sudut pandang dari punggung unta di jalur berkerikil.
Naik unta, sudut pandang dari punggung unta di jalur berkerikil.
Unta berpelana warna-warni di jalur batu menanjak.
Unta berpelana warna-warni di jalur batu menanjak.

Pit stop 1 adalah kafe batu yang dinding dan langit-langitnya penuh bendera dan kaus bertanda tangan dari puluhan negara, "buku tamu" raksasa para pendaki. Kopinya biasa saja, agak manis dan pahit, tapi diminum dari gelas kertas bermotif hieroglif, di kios batu dengan papan bertuliskan bahasa Indonesia: "Selamat Pagi. Di sini ada: kopi, teh, pop mie, air panas dengan harga murah. KHALED.", rasanya jadi juara.

Kopi di punggung Horeb, gelas hieroglif di depan kios batu.
Kopi di punggung Horeb, gelas hieroglif di depan kios batu.
Gelas bertuliskan Egypt, penuh siluet ankh dan hieroglif.
Gelas bertuliskan Egypt, penuh siluet ankh dan hieroglif.
Penjual berkain kepala kotak-kotak ikut tersenyum di belakang konter.
Penjual berkain kepala kotak-kotak ikut tersenyum di belakang konter.

Lalu 750 anak tangga batu yang tidak beraturan, langkah terseok, napas tersengal, dan akhirnya puncak. Lega, bangga, dan sangat bersyukur. Kami berdoa untuk ujud masing-masing dan keluarga. Tidak ada bunyi apa pun. Hanya kamu dan kamu sendiri. Suhu di puncak cuma 5 sampai 15 derajat, jauh dari panasnya Giza, dan kapel kecil bersalib di sana punya lonceng perunggu yang tergantung di ceruk batu. Saya berdiri di ambangnya sambil memegang talinya. Keheningan mendalam, oksigen yang tipis, dentang lonceng tanda kemenangan terhadap diri sendiri. Terbayar lunas semua pencobaan.

Di puncak Horeb, Gunung Sinai, hanya kamu dan kamu sendiri.
Di puncak Horeb, Gunung Sinai, hanya kamu dan kamu sendiri.
Tugu "You're Now at the Summit of Mount Sinai".
Tugu "You're Now at the Summit of Mount Sinai".
Lonceng perunggu di kapel puncak, suara yang menutup pendakian.
Lonceng perunggu di kapel puncak, suara yang menutup pendakian.

Turunnya jalan kaki penuh: kalau naik tantangannya napas, kalau turun tantangannya kaki, yang sudah bergetar tapi harus terus melangkah. Di kaki gunung, dalam cahaya redup, pemandangan paling sunyi sepanjang perjalanan: seekor unta berpelana warna-warni berjalan tanpa penunggang, dituntun seorang Bedouin di jalur kerikil lereng granit. Dari situ shuttle kecil melaju ngebut mengejar malam sampai Taba; di resort perbatasan, lantai terasa berpasir karena badai pasir, sementara rombongan menunggu cerita pendakian kami.

Pagi berikutnya kami berdiri di gerbang Taba, terakhir di Mesir sebelum wilayah Israel. Mural "Welcome to Taba" menampilkan unta, Bedouin, dan buggy: tiga wajah Sinai yang baru saja kami jalani. Proses penyeberangannya sendiri tidak boleh difoto, area perbatasan melarang kamera. Jadi bagian paling bersejarah dari hari itu tinggal di ingatan. Antrean lancar, dan imigrasi dua negara selesai dalam satu jam. Keluar dari gerbang Mesir, jalan pegunungan Sinai berganti aspal menuju Eilat, kami resmi masuk Israel.

Setelah cek poin paspor Israel.
Setelah cek poin paspor Israel.
Di perjalanan menuju Israel, jalan pegunungan setelah perbatasan.
Di perjalanan menuju Israel, jalan pegunungan setelah perbatasan.