"Somewhere above Sumatra island." Demikian ketikan saya, ketika pesawat Emirates melintas di atas pulau itu. Di luar jendela, langit biru tua berubah jingga dan merah di cakrawala, dan di dekatnya menggantung bulan sabit tipis berdampingan dengan Venus, penanda malam pertama di udara. Saya berangkat sendiri. Yanti, Jovan, dan Jolene tidak ikut. Lewat Wi-Fi yang katanya bertenaga Starlink, saya mencoba video call dari kabin. Kemajuan tehnologi memang luar biasa. Wajah-wajah dari rumah muncul di layar ponsel, padahal saya sedang di atas awan.
Sebelum itu, semuanya masih terasa seperti rombongan biasa di Soekarno-Hatta. Selfie kompak di tikum Terminal 3, koper-koper diikat pita ungu supaya mudah dikenali di antara lautan bagasi. Lalu transit Dubai, gate C10, dan saya yang ketiduran menunggu penerbangan ke Kairo. Terbangun kedinginan oleh AC, padahal di luar suhunya 30-an derajat (kabur dari panas, malah kedinginan). Segelas McCafé di tangan jadi teman menunggu dini hari. Sesuatu yang familiar dengan rasa di rumah, dengan harga 5 kali lipat. Deretan jam dunia di dinding ruang tunggu sebagai pengingat: perjalanan ini akan melintasi banyak zona waktu.




Kairo menyambut jam setengah enam pagi dengan papan raksasa "Welcome to Egypt" yang huruf-hurufnya diisi gambar piramida dan gurun. Belum sempat keluar bandara, sebuah mural mosaik raksasa bergaya Firaun sudah menyapa: tiga perempuan memainkan harpa dan seruling di dinding terminal. Mesir memamerkan sejarahnya bahkan lewat pintu kedatangan.

Bus tour kami bernama EXODUS, nama yang ironis, sebab destinasi pertama rombongan ini justru masuk ke Mesir. Dari jendela bus, sambutan pertama Kairo bukan gedung, tapi padang pasir. Mina pemandu kami bercerita: Mesir hidup dari Sungai Nil, seratus persen bergantung padanya, kecuali Sinai yang menyuling air Laut Merah. Dan para raja meninggalkan makam, bukan rumah, karena rumah di tepi sungai lenyap dimakan waktu. Yang abadi justru rumah-rumah kematian mereka di dataran tinggi. Yes, piramida adalah makam. Piramida pertama muncul di kejauhan, bukan di tengah gurun seperti di foto-foto buku, melainkan menyembul dari balik deretan apartemen Giza.

Di plaza Giza kami hanya mendekat, tidak masuk, waktu terbatas, tapi cukup untuk merinding. Kereta kuda berkanopi yang melintas di depan Khufu tampak sebesar mainan di hadapan tumpukan batu berusia 4.500 tahun. Dari trio Giza, hanya Khafre yang masih menyimpan "topi", selubung batu casing halus di puncaknya, sisa kulit asli yang dulu membungkus seluruh sisi piramida. Sementara itu karavan unta berbaris di kaki piramida persis seperti kafilah dagang ribuan tahun lalu; hanya penumpangnya yang berganti dari pedagang rempah menjadi wisatawan bertopi bucket. Dan di ujung plateau, Sphinx berbaring di cekungan pasirnya, penjaga berkepala firaun yang hidungnya hilang, dan bekas riasan matanya yang samar jadi cerita sendiri.





Sorenya, di kawasan Kairo tua, kami menyusuri tiga agama dalam satu radius jalan. Yang pertama Abu Serga, gereja gua tempat Keluarga Kudus berteduh saat Pelarian ke Mesir. Di lantainya, di balik kaca penutup, ada sumur tua bertuliskan the well which the Holy Family drank from. Pengunjung menunduk, menyentuh kaca, berdoa pelan. Saya ikut menunduk. Ada yang aneh secara emosional membayangkan air yang sama, enam belas abad lalu, diminum oleh seorang bayi. Langkah berikutnya hanya menyeberang: Sinagoga Ben Ezra dengan Bintang Daud tergantung di antara kolom marmer; lalu Gereja Gantung Al-Muallaqa, yang dibangun di atas dua menara Benteng Babilonia Romawi, lantai kacanya membiarkan saya mengintip fondasi kuno itu tepat dari atas sepatu sendiri, sementara halaman dalamnya yang teduh, air mancur marmer dan lentera bintang, menutup rute hari itu: tiga agama, satu kota tua, Kairo membuat perjalanan ini terasa utuh bahkan sebelum kami melangkah ke Tanah Terjanji. Dan Mesir sendiri, yang menampung Keluarga Kudus, justru tanah suci yang pertama kami pijak.








Penutup rute Kairo hari itu ada di Bukit Mokattam: Gereja Gua St. Simon the Tanner. Amfiteater raksasa di dalam batu, ribuan bangku bersalib, dan jauh di atas kepala, di rigging tebing, manusia-manusia melayang di atas kabel, seperti sulap. St. Simon mencongkel matanya sendiri supaya tidak jatuh dalam dosa; dan di tebing yang sama, ayat Matius 17:20 dipahat tepat di bawah salib: "jika kamu punya iman... katakan kepada gunung ini: berpindahlah..." Gunung yang dikisahkan berpindah itu adalah gunung tempat gereja ini berdiri. Tidak ada tempat yang lebih pas di seluruh dunia untuk ayat itu.


Bus pulang dari Mokattam melewati Kampung Zabbaleen, kampung para pemulung Koptik: gunungan karung hasil pilahan sampah sepanjang gang, baliho Yesus-Maria di antara lapak sayur, penjual roti baladi yang baru matang di pinggir jalan. Dan satu adegan yang membuat saya diam lama: seorang ayah memeluk dan mencium anaknya di tengah tumpukan karung raksasa. Iman dan kerja keras dalam satu frame yang sama.


Hari pertama di Mesir ditutup di atas Sungai Nil. Matahari tenggelam keemasan di balik siluet Kairo, penari Tanoura memutar roknya seperti piringan warna, dan setelah gelap, sungai itu jadi cermin hitam yang memantulkan seluruh lampu kota. Sungai yang mengaliri seratus persen kehidupan Mesir, malam itu mengalirkan juga musik dan cahaya.



Keesokan paginya kami check-out dari hotel di Kairo, fasad batu merah batanya tersiram langit biru, lalu bus membawa kami keluar kota, mengejar Sinai via Terusan Suez. Sebelum meninggalkan kota, dua singgah yang menyenangkan: toko parfum Mody Khattab, tempat saya membawa pulang myrrh 300 ml untuk Mama Yanti, minyak mur untuk pijat kaki, hangat tanpa bau, dan memang terbukti begitu, dan Institute of Papyrus, tempat nama Wongkar kini tertulis dalam hieroglif pada papirus Tree of Life: lima burung penanda fase hidup, empat menghadap timur tempat matahari terbit, burung kelima, masa tua, menghadap barat.
Makan siang di Le Pasha menutup Kairo dengan elegan, kofta empuk dan juicy, plus kurma segar dari Mina yang crunchy dan agak sepat; padahal pagi tadi di sarapan hotel saya sudah makan kurma yang empuk. Dua kurma, dua rasa, manisnya negeri ini memang tidak pernah berlebihan.


Di luar kota, bus masuk terowongan 2 km di bawah Terusan Suez dan mendadak hening, di atas kepala kita ada air dan kapal-kapal yang lalu-lalang tanpa terasa sedikit pun. Selebihnya jalan panjang menyusuri pesisir Laut Merah: siluet menara listrik di depan matahari rendah, pom bensin Watanya dengan sedan klasik krem, pegunungan gurun di bawah langit merah muda. Malamnya kami tiba dan menginap di resor tepi Laut Merah di Sharm El Sheikh, badan yang remuk diikat dan dilepas kembali, persiapan untuk hari pendakian.

Pagi berikutnya, dari Sharm El Sheikh bus membawa kami ke kaki gunung, ke Biara St. Catherine. Ribuan tahun umurnya, temboknya berdiri di antara tebing granit. Di sanalah, menurut tradisi, semak yang menyala tanpa hangus itu masih tumbuh, tempat Allah memanggil Musa dari semak duri. Kami tidak masuk ke biara. Tapi dari luar sudah cukup. Jalan tanah berkelok di antara tebing, empat pria bersorban duduk di tembok benteng, dan gunung merah menjulang sebagai latar.


Dari kaki gunung, pendakian dimulai dengan unta. Di sini pertama kali saya melihat orang Bedouin, dan yang menyita perhatian adalah pakaian mereka serta cara mereka menangani unta. Naik unta menuju "Starbucks" lokal di atas itu seru sekaligus menegangkan: untanya jalan sesuka hati, kadang di pinggir jurang, pemandu jauh di belakang, dan saya hanya bisa pegangan erat sambil ngeri-ngeri sedap.



Pit stop 1 adalah kafe batu yang dinding dan langit-langitnya penuh bendera dan kaus bertanda tangan dari puluhan negara, "buku tamu" raksasa para pendaki. Kopinya biasa saja, agak manis dan pahit, tapi diminum dari gelas kertas bermotif hieroglif, di kios batu dengan papan bertuliskan bahasa Indonesia: "Selamat Pagi. Di sini ada: kopi, teh, pop mie, air panas dengan harga murah. KHALED.", rasanya jadi juara.



Lalu 750 anak tangga batu yang tidak beraturan, langkah terseok, napas tersengal, dan akhirnya puncak. Lega, bangga, dan sangat bersyukur. Kami berdoa untuk ujud masing-masing dan keluarga. Tidak ada bunyi apa pun. Hanya kamu dan kamu sendiri. Suhu di puncak cuma 5 sampai 15 derajat, jauh dari panasnya Giza, dan kapel kecil bersalib di sana punya lonceng perunggu yang tergantung di ceruk batu. Saya berdiri di ambangnya sambil memegang talinya. Keheningan mendalam, oksigen yang tipis, dentang lonceng tanda kemenangan terhadap diri sendiri. Terbayar lunas semua pencobaan.



Turunnya jalan kaki penuh: kalau naik tantangannya napas, kalau turun tantangannya kaki, yang sudah bergetar tapi harus terus melangkah. Di kaki gunung, dalam cahaya redup, pemandangan paling sunyi sepanjang perjalanan: seekor unta berpelana warna-warni berjalan tanpa penunggang, dituntun seorang Bedouin di jalur kerikil lereng granit. Dari situ shuttle kecil melaju ngebut mengejar malam sampai Taba; di resort perbatasan, lantai terasa berpasir karena badai pasir, sementara rombongan menunggu cerita pendakian kami.
Pagi berikutnya kami berdiri di gerbang Taba, terakhir di Mesir sebelum wilayah Israel. Mural "Welcome to Taba" menampilkan unta, Bedouin, dan buggy: tiga wajah Sinai yang baru saja kami jalani. Proses penyeberangannya sendiri tidak boleh difoto, area perbatasan melarang kamera. Jadi bagian paling bersejarah dari hari itu tinggal di ingatan. Antrean lancar, dan imigrasi dua negara selesai dalam satu jam. Keluar dari gerbang Mesir, jalan pegunungan Sinai berganti aspal menuju Eilat, kami resmi masuk Israel.


