← Semua cerita

Perjalanan · Jejak di Tanah Kitab · Bagian 3 dari 4

Yerusalem, Halaman Kitab yang Dibuka Satu Per Satu

Yerusalem, Halaman Kitab yang Dibuka Satu Per Satu

Yerusalem terasa seperti halaman Kitab yang dibuka satu per satu, dan cara terbaik membacanya adalah dengan menjalaninya. Pagi itu dimulai dari halaman yang paling banyak dibaca orang di dunia ini: Tembok Ratapan.

Sisa dinding penahan Bait Kedua yang dihancurkan Roma tahun 70 M ini punya lapisan zaman yang bisa dibaca dengan mata: blok-blok Herodian besar dan halus di bagian bawah, batu lebih kecil dan kasar di atasnya. Orang berdoa dipisahkan pembatas; kertas-kertas doa menyelip di celah-celah batu sejak ratusan tahun. Dan saya datang membawa daftar nama sendiri: ujud untuk Yanti, Jovan, dan Jolene, untuk Papa di Manado, serta untuk Mama yang sudah mendahului kita berpulang ke rumah Bapa di surga. Saya tulis mereka di secarik kertas kecil, melipatnya, lalu menyelipkannya ke celah batu itu. Tembok yang paling banyak didoakan di muka bumi sekarang menyimpan secarik doa dari salah satu pojok Alam Sutera. Mungkin akan dibaca dan didoakan ulang oleh orang asing dari benua lain, bertahun-tahun kemudian. Tidak ada cara yang lebih indah untuk menitipkan orang-orang yang kita cintai.

Tembok Ratapan, doa-doa yang terus mengalir di kaki blok Herodian, dan prajurit berseragam zaitun duduk di bangku yang sama.
Tembok Ratapan, doa-doa yang terus mengalir di kaki blok Herodian, dan prajurit berseragam zaitun duduk di bangku yang sama.
Celah-celah batu tempat kertas doa diselipkan, tempat secarik kertas dari rumah saya sekarang tinggal.
Celah-celah batu tempat kertas doa diselipkan, tempat secarik kertas dari rumah saya sekarang tinggal.
Doa dari dua sisi pembatas, kippah dan kerudung.
Doa dari dua sisi pembatas, kippah dan kerudung.
Pelataran depan Tembok, terang, luas, dan tua.
Pelataran depan Tembok, terang, luas, dan tua.

Dari Tembok, kami masuk lorong-lorong Via Dolorosa, jalan paling aneh yang pernah saya lewati. Kota Tua yang ramai oleh pedagang, jemuran di jendela, dua pria duduk di anak tangga dengan kursi plastik biru, dan di dinding-dinding batu tua itu tertempel plakat-plakat perunggu: VI STATION OF THE CROSS, ΣΤΑΥΡΩΣΙΣ. Di simpang lorong yang lain, seorang pria Hasidik berjanggut panjang berjubah hitam berjalan membelakangi kita, seperti seseorang yang berjalan keluar dari sebuah lukisan. Jalan penderitaan terberat di abad pertama, di abad ke-21 menjadi pusat ekonomi yang hidup.

Via Dolorosa, lengkungan batu di ujung lorong, cahaya masuk dari kejauhan.
Via Dolorosa, lengkungan batu di ujung lorong, cahaya masuk dari kejauhan.
Gerbang Ecce Homo dengan prasasti Latin "Lithostrotos" (Yohanes 19), tempat Pilatus mengadili dan menjatuhkan vonis.
Gerbang Ecce Homo dengan prasasti Latin "Lithostrotos" (Yohanes 19), tempat Pilatus mengadili dan menjatuhkan vonis.
Tangga Via Dolorosa, jemuran, kursi plastik, dan penjual suvenir; jalan salib yang tetap jadi gang hidup.
Tangga Via Dolorosa, jemuran, kursi plastik, dan penjual suvenir; jalan salib yang tetap jadi gang hidup.
Lorong Kota Tua di rute Via Dolorosa, pria Hasidik berjubah hitam berjalan seperti keluar dari sebuah lukisan.
Lorong Kota Tua di rute Via Dolorosa, pria Hasidik berjubah hitam berjalan seperti keluar dari sebuah lukisan.

Di ujung rute, Gereja Makam Kudus. Fasad marmer kuning-pink, pintu-pintu rendah yang memaksa orang membungkuk masuk, kandil-kandil kuningan tinggi, dan di dalam rotunda berkubah mosaik emas, seorang imam Ortodoks berjanggut putih berjubah hitam berdiri membungkuk di samping dua lilin kecil, mendaftarkan doa entah untuk siapa. Di bawah kaki: makam. Di atas kepala: surga yang dilukis. Semua denominasi berbagi gedung yang sama. Kota ini bahkan tidak bisa menyepakati siapa pemilik makamnya, dan mungkin memang begitu seharusnya.

Imam Ortodoks dan lilin tinggi di dalam Makam Kudus, mendaftarkan doa entah untuk siapa.
Imam Ortodoks dan lilin tinggi di dalam Makam Kudus, mendaftarkan doa entah untuk siapa.
Aedicule marmer, pintu rendah yang memaksa semua orang membungkuk.
Aedicule marmer, pintu rendah yang memaksa semua orang membungkuk.
Katholikon Makam Kudus, ikonostasis keemasan dengan dua malaikat putih di sisi pintu raya.
Katholikon Makam Kudus, ikonostasis keemasan dengan dua malaikat putih di sisi pintu raya.
Ruang nave Makam Kudus, barisan kursi di bawah ikonostasis dan kandil-kandil gantung; di dinding kiri, surya keemasan menyinar.
Ruang nave Makam Kudus, barisan kursi di bawah ikonostasis dan kandil-kandil gantung; di dinding kiri, surya keemasan menyinar.
Batu Pengurapan, tangan-tangan menelusuri batu tempat Yesus diturunkan dari salib dan diurapi.
Batu Pengurapan, tangan-tangan menelusuri batu tempat Yesus diturunkan dari salib dan diurapi.

Satu halaman lagi di Yerusalem, di Gunung Zion: ruang batu sederhana dengan peti beludru merah marun berbordir emas, King David's Tomb. Di panel kayu di sebelahnya tertulis Mazmur 150, "biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN". Raja yang paling agung itu dimakamkan dalam ruangan yang sunyi dan kecil.

Dan tak jauh dari sana, Garden Tomb, alternatif lokasi makam dan kebangkitan di samping tebing yang dijuluki Skull Hill, justru menerima kami dengan bedeng-bedeng petunia warna-warni di bawah pohon besar: teduh, tenang, hidup di tengah kota.

Makam Raja Daud, Gunung Zion, beludru merah-emas dalam ruang batu.
Makam Raja Daud, Gunung Zion, beludru merah-emas dalam ruang batu.
Petunia warna-warni di kaki pohon Garden Tomb.
Petunia warna-warni di kaki pohon Garden Tomb.

Pagi-pagi, sebelum masuk lorong Via Dolorosa, kami lebih dulu ke Kompleks Santa Anne: basilikanya megah dengan akustika yang membuat paduan suara rombongan menggema seperti malaikat. Di sebelahnya ada Kolam Bethesda, masif, sangat dalam, dan bertangga. Jerias guide kami, mengingatkan bahwa kolam bertangga bukan tampungan air, melainkan kolam pentahiran, dan mendadak semuanya masuk akal. Air sebesar itu, dengan tangga di sisinya, bukan untuk diminum. Untuk dibasuh. Untuk memulai kembali.

Kolam pentahiran Bethesda di luar Gereja Santa Anne, cekungan batu yang dalam.
Kolam pentahiran Bethesda di luar Gereja Santa Anne, cekungan batu yang dalam.

Yang paling kontemplatif di Yerusalem justru ada di bawah tanah. Di Gereja Santo Petrus in Gallicantu, situs yang secara tradisional disebut rumah Kayafas, imam besar, ada shaft batu di bawah gereja. Lubang sel tempat Yesus dipercaya ditahan semalam, dipandang dari lantai kaca ke dalam kegelapan yang tidak berubah sejak malam itu. Nama "Gallicantu" berarti "ayam berkokok", dan di terasnya, patung perunggu Petrus mengangkat kedua tangan menyangkal, dengan tulisan Latin di pedestal: Non novi illum, "aku tidak mengenal Dia". Di dinding mosaik, seekor ayam jago menunggu, kokok yang mengakhiri penyangkalan.

Lubang sel di bawah Gallicantu, dilihat lewat lantai kaca.
Lubang sel di bawah Gallicantu, dilihat lewat lantai kaca.
Lilin-lilin doa, pasir menahan panas, nyala menahan doa.
Lilin-lilin doa, pasir menahan panas, nyala menahan doa.
Mosaik ayam jago, kokok yang mengakhiri penyangkalan Petrus.
Mosaik ayam jago, kokok yang mengakhiri penyangkalan Petrus.
Patung penyangkalan Petrus di teras Gallicantu, ayam jantan di puncak kolom, latar Kota Tua dan kubah emas.
Patung penyangkalan Petrus di teras Gallicantu, ayam jantan di puncak kolom, latar Kota Tua dan kubah emas.

Keesokan paginya kami pindah ke lereng timur Kota Tua: Bukit Zaitun. Papan jalan tiga bahasa, Ibrani, Arab, Inggris, menandai bahwa nama yang sering kita dengar itu nyata: Har Hazetim, Mount of Olives. Di puncaknya, Chapel of the Ascension menyimpan batu dengan bekas telapak kaki, menurut Jerias, tempat terakhir Yesus berdiri sebelum diangkat ke surga, dan seorang perempuan berjongkok menyentuhnya dengan tangan. Manusia butuh menyentuh untuk percaya bahwa ia benar-benar sampai.

Batu jejak kaki di Chapel of the Ascension, tempat terakhir Ia berdiri.
Batu jejak kaki di Chapel of the Ascension, tempat terakhir Ia berdiri.
Chapel of the Ascension dari luar, bangunan bundar berkubah batu yang melindungi jejak kaki terakhir itu.
Chapel of the Ascension dari luar, bangunan bundar berkubah batu yang melindungi jejak kaki terakhir itu.

Turuni bukit sedikit, masuk ke Getsemani. Basilika Semua Bangsa menjaga batu tempat Yesus bergumul, dipagari besi bermotif mahkota duri, dengan mosaik apsis yang kelam dan indah. Ia berdoa sementara murid-murid tertidur. Orantes in agonia prolitus orabat, dalam agoni-Nya, Ia berdoa lebih tekun. Dan di taman luarnya, pohon-pohon zaitun berbatang lekuk yang diperkirakan berusia 900 tahun masih berbuah. Saksi yang tidak dimintai keterangan.

Batu bergumul di Getsemani, pagar besi bermotif mahkota duri, merpati perak di atasnya.
Batu bergumul di Getsemani, pagar besi bermotif mahkota duri, merpati perak di atasnya.
Interior Basilika Semua Bangsa, kubah biru bertabur bintang emas dan mosaik agoni di atas batu bergumul.
Interior Basilika Semua Bangsa, kubah biru bertabur bintang emas dan mosaik agoni di atas batu bergumul.
Kapel organ di Getsemani, mosaik malaikat di atas pipa-pipa perak, jendela ungu membiarkan cahaya masuk pelan-pelan.
Kapel organ di Getsemani, mosaik malaikat di atas pipa-pipa perak, jendela ungu membiarkan cahaya masuk pelan-pelan.

Dekat situ, masih di lereng Bukit Zaitun, Gereja Air Mata (Dominus Flevit) berkubah seperti tetesan air mata, dibangun di tempat Yesus menangisi Yerusalem. Di altarnya, mosaik induk ayam merentangkan sayap melindungi anak-anaknya: "Yerusalem, Yerusalem, berapa kali Aku ingin mengumpulkan anak-anakmu... tetapi kamu tidak mau." Jendela kaca patri di belakang altar membingkai Kota Tua, salib, mahkota duri, dan kubah emas terpantul di kacanya. Yesus menangisi kota yang panoramanya masih dipajang di altar sampai hari ini.

Jendela Gereja Air Mata, kubah emas terpantul di kaca.
Jendela Gereja Air Mata, kubah emas terpantul di kaca.
Di depan Dominus Flevit, topi kuning khas di bawah kubah tetesan air mata.
Di depan Dominus Flevit, topi kuning khas di bawah kubah tetesan air mata.
Halaman Dominus Flevit, kubah air mata di bawah langit, bendera Fransiskan berkibar di kanan.
Halaman Dominus Flevit, kubah air mata di bawah langit, bendera Fransiskan berkibar di kanan.

Halaman yang paling lama saya renungkan justru di pinggang Betlehem, di Beit Sahour atau Padang Gembala. Di atas altar gerejanya, sebuah mural melukiskan malam pengumuman itu dengan tiga gembala berekspresi berbeda. Anak gembala menengadah bergembira tanpa beban, yang tua berlutut takzim, dan seorang lagi rebah menaungi wajahnya, terlalu waspada, sudah banyak dikecewakan. Saya mengenali diri saya di wajah ketiga.

Dan di tepi mural, nyaris tersembunyi di dekat pohon zaitun, seekor anjing penjaga kawanan meringkuk, menjepitkan ekor di sela kakinya. Mereka yang tiap malam digembleng untuk tidak takut apa pun, yang biasa menyalakkan gigi pada setiap bayangan, justru merekalah yang paling dulu ciut di hadapan cahaya surga. Malam itu tidak ada yang merasa siap. Mungkin memang begitulah caranya Allah datang, membuat para penjaga sekalipun belajar menunduk.

Rombongan mengikuti ibadah di gereja Padang Gembala, Beit Sahour, bangku kayu dan altar sederhana di bawah langit-langit batu.
Rombongan mengikuti ibadah di gereja Padang Gembala, Beit Sahour, bangku kayu dan altar sederhana di bawah langit-langit batu.
Mural pengumuman malaikat di atas altar, tiga gembala, tiga wajah; dan seekor anjing penjaga yang meringkuk di tepi padang.
Mural pengumuman malaikat di atas altar, tiga gembala, tiga wajah; dan seekor anjing penjaga yang meringkuk di tepi padang.

Setelah Yerusalem dan Betlehem, bus kami naik terus ke utara, ke Galilea. Tujuan pertama hari berikutnya adalah Kana. Bukan sekadar nama, tapi tempat mukjizat pertama. Air menjadi anggur pada sebuah pesta pernikahan. Gereja Fransisnya berdiri dengan dua menara lonceng berpuncak kubah tembaga. Di sanalah kami ikut ibadah pembaruan janji nikah bagi pasangan-pasangan yang datang berdua. Mama Yanti sedang di UK, someday harus bisa ke sini berdua.

Gereja Pernikahan di Kana, someday, kita ke sini berdua.
Gereja Pernikahan di Kana, someday, kita ke sini berdua.

Masih di Galilea bagian bawah, di lereng bukit yang menghadap danau, berdiri Gereja Sabda Bahagia, bangunan kecil dengan mozaik ayat melingkari dindingnya, tempat dipercaya Yesus mengajarkan "berbahagialah...". Hal yang paling saya ingat justru jendela-jendelanya yang membingkai Danau Galilea biru penuh: kebahagiaan, ternyata, difoto dari ketinggian yang pas.

Gereja Sabda Bahagia, Bukit Beatitudes, Galilea.
Gereja Sabda Bahagia, Bukit Beatitudes, Galilea.

Turun dari bukit, di Danau Galilea sendiri perahu kami ikut bergoyang. Bukan oleh badai, tapi oleh dance dan lagu-lagu Indonesia banget: Anak Medan, Tabola Bale, Maumere, sementara saya menikmatinya dari pinggir dek, dengan bendera merah-putih berkibar di tiang perahu berdampingan dengan bendera Israel. Someday mungkin akan bisa secara resmi bersanding ..

Dua bendera di satu tiang perahu Danau Galilea.
Dua bendera di satu tiang perahu Danau Galilea.

Di tepi danau yang sama, Magdala, kota Maria Magdalena, menerima kami dengan meja makan: ikan Petrus, nila Danau Galilea, datang bersama nasi dan saset Sambal Terasi Uleg yang dibagikan seseorang dari rombongan. Nuansa rumah, di tanah tempat salah satu pengikut Yesus yang paling setia dulu tinggal.

Ikan Petrus dengan sambal terasi Uleg, Tabgha/Galilea.
Ikan Petrus dengan sambal terasi Uleg, Tabgha/Galilea.
Kota Magdala, kota asal Maria Magdalena.
Kota Magdala, kota asal Maria Magdalena.

Dan Sungai Yordan kami temui dalam dua wajah di hari-hari itu. Wajah pertama: Yardenit, situs baptisan modern dekat muara danau, air tenang, papan fasilitas jujur (minuman, es, es krim, camilan), siap melayani orang membaptis diri sambil beli es krim. Wajah kedua, dua hari kemudian, adalah Yordan versi perbatasan: di Sheikh Hussein, dari jembatan berpagar putih, sungai itu ternyata sempit dan berair cokelat, sungguh, sungai sekecil itu pemisah dua negara yang kami lalui bolak-balik sepekan.

Baptis di Yordan, Yardenit.
Baptis di Yordan, Yardenit.
Sungai Yordan, sempit, cokelat, tenang.
Sungai Yordan, sempit, cokelat, tenang.
Yordan dari jembatan, dua negara dalam satu garis air.
Yordan dari jembatan, dua negara dalam satu garis air.

Sebelum menyeberang ke Yordania, ada satu kota yang selalu membuat langkah saya melambat: Nazaret. Di kakinya terdapat Gunung Precipice, tebing dari mana orang-orang sinagoge yang marah hampir menjatuhkan Yesus; tapi ayat itu menutup dengan kalimat yang selalu saya putar ulang: Ia tidak melawan, tidak melompat, Ia melintas di tengah-tengah mereka. Lolos bukan dengan berkelahi, tapi dengan berjalan tenang di tengah yang paling marah.

Dan di dalam kota, berdiri basilika yang namanya selalu spesial di hati saya. Nama Maria punya tempat khusus. Mama saya, nama tengahnya Maria. Anak kedua saya, Jolene, nama tengahnya Mary, Maria juga. Keduanya saya bawa ke Nazaret ini dalam doa. Dua perempuan bernama Maria yang saya cinta, di kota tempat bunda Maria menjawab "ya" atas kabar yang mengubah sejarah. Basilika Kabar Sukacita menyimpan gua reruntuhan rumah Maria di tingkat bawahnya, dan dinding-dindingnya menampung mosaik Bunda Maria dari puluhan negara, termasuk yang berbatik dari Indonesia. Di halaman bawah, saya berdiri di samping patung Maria putih, tangan menyentuh tangan patung, dan membisikkan dua nama.

Di samping patung Maria di Basilika Kabar Sukacita, dua Maria dalam doa saya.
Di samping patung Maria di Basilika Kabar Sukacita, dua Maria dalam doa saya.
Halaman bawah basilika, suster-suster Fransiskan menuruni tangga menuju patung Maria putih di atas lantai mosaik.
Halaman bawah basilika, suster-suster Fransiskan menuruni tangga menuju patung Maria putih di atas lantai mosaik.
Fasad Basilika Kabar Sukacita, "VERBUM CARO FACTUM EST".
Fasad Basilika Kabar Sukacita, "VERBUM CARO FACTUM EST".
Bunda Maria berbatik, mosaik persembahan Indonesia, satu dari puluhan Maria dari negara-negara lain.
Bunda Maria berbatik, mosaik persembahan Indonesia, satu dari puluhan Maria dari negara-negara lain.
Nave gereja Maria, dinding kaca patri setinggi nave. Warna-warninya jatuh dan menggenang di lantai marmer.
Nave gereja Maria, dinding kaca patri setinggi nave. Warna-warninya jatuh dan menggenang di lantai marmer.
Kubah dalam Basilika Kabar Sukacita, sinar ibu, dikelilingi malaikat dan tulisan "PAX HOMINIBVS". Di kota Maria, bahkan langit-langit pun berbicara tentang damai.
Kubah dalam Basilika Kabar Sukacita, sinar ibu, dikelilingi malaikat dan tulisan "PAX HOMINIBVS". Di kota Maria, bahkan langit-langit pun berbicara tentang damai.