← Semua cerita

Perjalanan · Jejak di Tanah Kitab · Bagian 2 dari 4

Laut Mati, Titik Terendah di Bumi

Laut Mati, Titik Terendah di Bumi

Dari Eilat, perjalanan panjang menyusuri gurun Yudea ke utara, tujuan siang itu: Qumran.

Laut Mati dan Pegunungan Moab dari atas Qumran, dari ketinggian yang sama gulungan-gulungan itu dulu disembunyikan di gua.
Laut Mati dan Pegunungan Moab dari atas Qumran, dari ketinggian yang sama gulungan-gulungan itu dulu disembunyikan di gua.
Reruntuhan komunitas Eseni di Qumran, Scrolls Trail, akuaduk batu menyalirkan air banjir dari wadi ke kolam penampung.
Reruntuhan komunitas Eseni di Qumran, Scrolls Trail, akuaduk batu menyalirkan air banjir dari wadi ke kolam penampung.

Qumran adalah tempat yang membuat saya berhenti lama dalam hati. Di tebing-tebing ini, pada 1947, seorang gembala Bedouin melempar batu ke dalam gua dan mendengar bunyi yang mengubah arkeologi dunia: gulungan-gulungan kitab. Yang terbesar, Gulungan Yesaya Agung, 7,34 meter, 54 kolom, seluruh 66 pasal Kitab Yesaya, berusia sekitar 125 tahun sebelum Masehi, satu-satunya kitab yang ditemukan hampir utuh. Di reruntuhan yang disebut scriptorium itu, penggali menemukan dua tempayan tinta. Dua ribu tahun lalu ada orang-orang, kaum Eseni, golongan ketiga Yahudi selain Farisi dan Saduki, yang hidup berkomunitas, beribadah, dan menyalin kitab. Di perpustakaan gua itu ada sekitar 22 salinan Kitab Yesaya. Dua puluh dua. Obsesi yang saleh: satu kitab disalin berulang-ulang, koreksi ditambahkan di pinggir naskah, ejaan disesuaikan supaya zamannya masih bisa membaca.

Sambil berjalan di jalur kayu itu, saya bertanya pada diri sendiri: naskah apa dalam hidup saya yang layak diselamatkan dan disalin seribu tahun ke depan?

Sore harinya, menuruni lembah yang sama menuju tepi Laut Mati, kami sampai di Kalia Beach. Papan-papannya jujur dua hal: -413 m, the lowest place on Earth, dan satu tulisan yang membuat saya meringis sendiri di tengah ramainya tempat ini: "The lowest bar", bar terendah di dunia. Bar tempat minum, dan mungkin bar yang artinya standard. Di air asin itu tubuh mengapung begitu saja, so effortless, walau agak was-was kalau kecipratan mata, air yang tak bisa menampung ikan, udang, atau ganggang. Black mud-nya baunya tidak enak, tapi terasa halus di kulit.

Dan inilah sunyi yang saya cari: Laut Mati adalah laut tanpa muara. Sungai Yordan mengalir masuk, airnya menguap, tidak ada yang keluar. Ia hanya menerima, terus-menerus, sampai menjadi paling asin, paling padat, paling berat. Ada apa dengan hati yang hanya menerima dan tidak pernah memberi?

Dari pantai terendah di bumi, bus menanjak ke utara menuju Yerikho, salah satu kota tertua di dunia. Tujuan pertama di sana adalah Bukit Pencobaan. Kami cuma memandang dari bawah; sudah malam, jadi hampir tidak ada yang bisa dilihat selain lampu-lampu kecil menyala di lereng dan biara yang menempel di dinding tebing seperti sarang burung raksasa. Deir Quruntul, nama yang menyimpan angka empat puluh, tempat Yesus berpuasa dan dicobai. Empat puluh hari, dan cukup untuk mengubah segalanya.

Bukit Pencobaan, Yerikho, biara yang menggantung di tebing di bawah langit senja.
Bukit Pencobaan, Yerikho, biara yang menggantung di tebing di bawah langit senja.
Papan 1,3 km menuju Deir Quruntul, Bukit Pencobaan dilihat saat senja, lampu-lampu lereng mulai menyala.
Papan 1,3 km menuju Deir Quruntul, Bukit Pencobaan dilihat saat senja, lampu-lampu lereng mulai menyala.

Sebelum mendaki ke sana, kami sempat mampir ke area pohon ara kisah Zakheus. Yang berdiri di sana hanya contoh pohon ara, bukan yang asli, kata pemandu kami jujur. Batangnya besar dan berongga, separuh rimbun separuh gundul. Tapi malam itu, dari bawah bukit, saya baru menyadari sesuatu dari kisah yang sudah saya dengar puluhan kali: Yesuslah yang mendongak lebih dulu ke atas pohon. Zakheus memanjat untuk melihat; ternyata ia lebih dulu dilihat.

Malamnya kami naik ke perbukitan dan menginap di Betlehem. Kota itu kami temui sebagai kota yang tertidur. Bangunan batu krem berjendela lengkung yang disorot lampu merah muda, papan neon "John Paul II Foundation" menyala biru di kejauhan. Paginya dingin, kira-kira 15 derajat. Perempatan kosong dengan lampu lalu lintas hijau yang menyala untuk tidak seseorang pun, kios-kios makanan yang rolling door-nya masih tertutup rapat.

Sebelum meninggalkan Betlehem, tiga tempat menahan langkah saya. Yang pertama kompleks Gereja Kelahiran, halaman dengan patung S. Hieronymus, penerjemah Alkitab ke bahasa Latin, berdiri memegang buku dengan tengkorak di kakinya. Yang kedua, seorang penjaga muda berdiri bertolak pinggang di pelataran batu kompleks Kelahiran, persis di depan pintu lengkung kecil menuju Gua Kelahiran, pintu yang harus dimasuki dengan membungkuk. Yang sakral dan yang menjaganya, berdiri di halaman yang sama. Dan yang ketiga, toko rohani dengan salib-salib kayu zaitun berhiaskan mother-of-pearl, kayu dari pohon yang batangnya saja bisa berusia sembilan abad.

Patung S. Hieronymus di depan Gereja St. Katarina, kompleks Kelahiran, buku di tangan, tengkorak di kaki.
Patung S. Hieronymus di depan Gereja St. Katarina, kompleks Kelahiran, buku di tangan, tengkorak di kaki.
Penjaga bersilang tangan di pelataran kompleks Gereja Kelahiran, Betlehem, di depan pintu lengkung rendah menuju Gua Kelahiran.
Penjaga bersilang tangan di pelataran kompleks Gereja Kelahiran, Betlehem, di depan pintu lengkung rendah menuju Gua Kelahiran.

Dari Betlehem, perjalanan berlanjut naik, setengah jam di atas bus, melewati pos pemeriksaan di tengah jalan, dan untungnya kami tidak dicek, langsung lewat, sampai gerbang Kota Tua Yerusalem.

Gerbang Kota Tua Yerusalem, batu yang sama yang dilihat para peziarah abad pertama.
Gerbang Kota Tua Yerusalem, batu yang sama yang dilihat para peziarah abad pertama.

Yerusalem menyambut dengan emas. Kubah emas Dome of the Rock menyala di bawah langit biru pekat, oktagon berjersi keramik turquoise, bulan sabit di puncak kubahnya. Yang paling berkesan dari Dome justru sejarahnya yang berlapis: bait Allah, lalu masjid, lalu, secara teknis, tidak digunakan untuk salat jamaah sama sekali. Sebuah syahadat berbentuk batu yang berdiri di atas batu milik tiga agama. Di pelataran itu, sejarah terasa panjang dan bukan milik satu pihak.

Dome of the Rock dari pelataran, pria bertongkat berdiri menatap kubah.
Dome of the Rock dari pelataran, pria bertongkat berdiri menatap kubah.
Deretan lengkung bata Temple Mount, merpati bertengger di balok atas, kota luas di bawah langit pekat.
Deretan lengkung bata Temple Mount, merpati bertengger di balok atas, kota luas di bawah langit pekat.