Waktu menyeberang keluar dari Israel, Sungai Yordan kami lewati lagi, kali ini sebagai pintu, bukan tujuan. Sheikh Hussein Border ramai. Kami menunggu cukup lama di imigrasi Yordania, dokumen sudah beres, jadi kami ngobrol saja sampai giliran tiba. Jerias, guide kami yang seperti kamus ayat berjalan, di mana setiap tempat bisa dia tunjukkan di mana Alkitab menyebutkannya, berpisah di perbatasan itu. "Sampai jumpa lagi." Malamnya kami tiba di Amman, kota perbukitan yang mengingatkan saya pada Nazaret dan Betlehem.


Keesokan paginya, dari Amman bus menembus gurun Yordania yang datar dan keabuan menuju Petra. Singgah pertama, sebelum masuk kota adalah Wadi Musa, harfiah "Lembah Musa", dan di dalamnya Ain Musa, batu besar berlekuk yang dipercaya batu yang dipukul Musa supaya air keluar bagi bangsa Israel yang haus di padang gurun. Cekungan airnya masih ada di lantai batu sampai hari ini. Mukjizat air di tanah yang paling haus.


Dan kemudian Petra masuk lewat Siq. Lorong batu pasir menjulang di kiri-kanan, berkelok, gelap-sempit-cahaya. Dindingnya berganti warna dari kelabu bergaris sampai oranye menyala tergantung sudut matahari. Ceruk-ceruk makam Nabatea dipahat langsung di dinding, bukti bahwa ngarai ini bukan gerbang, tapi nekropolis. Siq adalah teater yang menyediakan naskah untuk pintu masuknya. Dua ribu tahun orang berjalan dalam gelap ini, menahan napas, menunggu dindingnya menyibak.



Di ujungnya, menjulang megah Treasury. Fasad oranye kemerahan muncul di celah sempit dengan kolom-kolom, pedimen, dan tholos di tengah atas, grand dan majestic, kata semua buku. Dan saya tidak punya koreksi apa pun. Di pelataran, unta putih berpelana merah berlutut tepat di depan pintu gelap Al-Khazneh, penjaga pelataran yang bersabar, dan saya duduk di bangku kayu menyesap kopi Bedouin yang ya... kopi saja. Ketika banyak yang menawarkan naik ke ketinggian untuk melihat dari atas, saya memilih pass, dan ternyata tidak menyesal. Treasury sudah cukup besar untuk dilihat dari depan. Kami keluar Petra sore hari, dan malamnya makan terlambat di sebuah "Chinese Village" di Amman dengan rasa ala kadarnya, tanda perjalanan mulai pulang.



Sehari kemudian, sebelum menuju bandara, kami naik lagi ke Gunung Nebo, tempat Musa hanya boleh memandang Tanah Perjanjian dari jauh, tanpa pernah masuk. Di terasnya berdiri monumen ular tembaga berkelindan pada salib, dengan plakat Yohanes 3:14: seperti Musa meninggikan ular di padang gurun... Cakrawala membentang berkabut di bawah langit biru pekat. Ada kesedihan yang tenang di tempat orang yang hampir sampai tapi tidak masuk, dan di gereja memorialnya, lantai kaca memperlihatkan reruntuhan mozaik di bawah kaki.


Makan siang perpisahan Yordania datang dengan kejutan. Di Dana Hills Restaurant ada Indomie, nasi dengan cara penyajian ala Indonesia banget, telur dadar, plus maqluba. Ternyata rindu bisa datang lewat kuah, bahkan di negeri orang.



Di Bandara Queen Alia, pesawat kami hampir tidak pernah berangkat. Saat pushback, mesin tiba-tiba mati, lampu dan AC ikut padam, electrical failure, kata kapten, dan sepuluh menit kemudian semuanya beres. Sepuluh menit dalam gelap ternyata cukup untuk membuat saya ingin sekali sampai di rumah.
Dubai menyambut keesokan harinya, kali ini bukan sebagai transit, tapi sebagai tamu. Sarapan yang proper setelah dua minggu bernuansa Timur Tengah, lalu rendang dan sayur nangka di restoran Betawi. Satu Indonesia utuh di tepi air, di antara menara-menara kaca. Di jalan setapak tepi laut Jumeirah, Burj Al Arab menjulang seperti layar kapal, warisan tradisi maritim Arab dalam beton dan kaca, dan topi kuning saya tetap ikut nimbrung di frame, seperti sejak Terminal 3 dulu.
Lalu abra, perahu kayu kecil dengan tarif paling murah untuk pelayaran paling bersejarah, menyeberangi Creek dengan air tenang tapi cukup berangin. Old Dubai dengan wind tower dan menara masjidnya, Dubai Marina dengan dhow kayu berlabuh di tepi sementara perahu modern meninggalkan jejak di tengah. Dua era pelayaran dalam satu frame. Kopi di Dubai Mall, penunjuk arah yang bikin bingung, dan fountain show di depan Burj Khalifa, setelah muter-muter, akhirnya kelihatan juga.











Dan di depan Museum of the Future, saya berjongkok memotret dan berpikir: hari itu pintunya tertutup untuk renovasi, dan entah kenapa itu terasa tepat. Tidak semua masa depan boleh dimasuki sekarang. Sebagian cukup dipandang dari bawah, seperti kita memandang Tanah Perjanjian dari kaki Nebo.
Perjalanan ini dibuka dengan video call dari atas Sumatra, dan ditutup dengan video call lagi dari kursi pesawat sebelum take off. Jovan dan Mama senang banget. Oleh-oleh menanti Jovan dan Jolene. Beberapa jam kemudian, matahari pagi mulai terlihat dari ketinggian 38 ribu kaki, dan saya menyadari: dua layar kecil yang sama, empat belas hari dan tujuh negara yang berbeda di antaranya.

Di puncak Sinai saya hanya berdua dengan diri sendiri, di antara lonceng perunggu dan kucing di atas tembok. Di ujung perjalanan, layar kecil berisi wajah-wajah di rumah mengingatkan untuk siapa semua cerita ini dibawa pulang. Dan di celah batu Tembok Ratapan, secarik kertas kecil menahan nama-nama yang saya cintai, tinggal di sana, didoakan orang-orang yang datang sesudah saya.
